"DEMA MARIND-ANIM" Busana Upacara Adat suku Marind, MERAUKE tahun 1942. Photo. Dok Rafaella Mariane Wajoi

Suku Marind dan Kanuum merupakan merupakan suku asli yang menetap di Merauke. Meski sudah modern, sebagian besar msyarakat kedua suku ini pernah dan masih sedikit yang bertahan tradisi lama pada beberapa aspek kehidupan, salah satunya dalam mencari makan. Mereka masih hidup dengan cara berburu di hutan.

Suku Marind dan kanuum merupakan pemilih hak ulayat taman nasional Wasur di kota Merauke. Mereka diperbolehkan untuk berburu di taman nasional Wasur dengan syarat dilakukan dengan menggunakan senjata tradisional seperti panah dan ketapel. hewan buruan mereka antara lain rusa, wallabi (kanguru kecil), kasuari, buaya, babi hutan, tikus tanah, kangguru dan kuskus.

Hasil buruan selain dikonsumsi sendiri biasanya sebagian di jual untuk memenuhi kebutuhan hidup lainya, seperti untuk biaya pendidikan dan uang saku sekolah. Dalam memilih hewan buruan suku Kanuum dan Marind memiliki aturan adat yang arif, mereka hanya di memilih hewan buruan menurut jenis kelamin dan usia, hanya hewan jantan dan sudah dewasa yang boleh diburu, sementara yang betina dan anakan harus dilepaskan.

Hasil buruan yang di konsumsi untuk makan sehari-hari biasanya dihidangkan bersama dengan sagu dan kelapa atau ubi dan dicampur dengan daging babi atau kanguru yang di masak dengan cara “Sep” yaitu makanan di masak mengunakan batu panas yang terbuat dari tumpukan batu sarang semut dan ditutup dengan kulit pohon melaleuca.

Alat berburu yang biasa digunakan oleh suku Kanuum dan Marind adalah busur, anak panah, jerat, parang dan anjing pemburu. Busur terbuat dari bamboo yang dalam bahasa Marind disebut “tat” dan dalam bahasa Kanuum disebut “Bulu Tui”, sementara untuk tali busur terbuat dari kulit luar bambu muda. Anak panah terbuat dari jenis gelaga yang dalam bahasa Kanuum disebut “Piter” sedangkan anak panah terbuat dari besi yang telah di tempa dan diasah. Tali busur dengan batang busur diikatkan dengan mengunakan tali beringan yang sudah dikeringkan. Busur dan anak panah dalam bahasa marind disebut ‘sok’ dalam bahasa Kanuum disebut “solgin – soppel. Jerat dalam bahasa Marind disebut “karal” sedangkan dalam bahasa Kanuum disebut “Mang”. Ada dua jenis jerat yang digunakan untuk berburu yaitu jerat leher dan jerat kaki. Jerat tersebut terbuat dari batang pohon yang lentur serta mengunakan tali hutan.

Suku Marind dalam berburu juga mengenal sistem Ohan (bahasa marind)/ Way (bahasa Kanuum) yaitu mengurung hewan buruan dengan cara membakar semak dan rerumputan. Pembakaran rumput ini membantu menciptakan cadangan rumput muda yang menjadi sumber makanan bagi rusa dan kanguru. Berburu biasanya dilakukan secara berkelompok terdiri dari 2-5 orang, sedangkan untuk berburu dengan mengunakan system Ohan biasanya terdiri dari kelompok besar sekitar 5-10 orang atau lebih. Kegiatan berburu biasanya dilakukan selama 2-3 hari dan untuk bermalam selama didalam hutan mereka membangun tenda biasa di sebut bivak sederhana dari kayu dan semak.

Bagi anda pengemar wisata menjelajah alam liar Merauke adalah pilhan yang tepat. Nikmati liarnya hutan Wasur dan berburu dengan cara tradisional bersama suku Marind dan Kanuum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here