Danau Anggi Pegungungan Arfak, Papua Barat, Photo by Harri Daryanto

pacebro – Tanah Papua memang luar biasa, memiliki misteri alam yang begitu banyak. Salah satunya yang pacebro ulas adalah keunikan Cagar alam pegunungan Arfak yang masih menyimpan banyak misteri yang sampai kini belum terungkap, mulai dari kehidupan flora-fauna, termasuk ribuan jenis tumbuhan anggrek, legenda ikan Houn (sejenis belut) di dua danau yang diapit oleh sebuah “perbukitan firdaus” bernama bukit Kobrey. Dua danau itu adalah Danau Anggi Giji dan Danau Anggi Gita yang berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Kehidupan seputar goa-goa, termasuk goa yang kedalamannya mencapai 2000 meter juga masih menyimpan selaksa misteri.

Menurut legenda orang arfak; Alkisah terdapat sepasang anak manusia tinggal di Pegunungan Arfak, Manokwari, Papua Barat. Mereka hidup berdua dan memadu kasih hingga kekuatan cinta mengabadikan diri mereka menjadi dua buah danau besar yang ada sampai sekarang. Dalam legenda, diceritakan juga danau itu masing-masing ditinggali oleh seekor naga jantan dan betina. Oleh warga setempat, dua danau itu dipercayai berkelamin jantan dan betina. Mereka menyebut danau jantan sebagai Anggi Ginji dan danau betina; Anggi Gita.

Danau Anggi terletak di kawasan cagar alam Pegunungan Arfak dan berada di ketinggian kurang lebih 2.950 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai wilayah tempat tinggal suku Arfak ini, membutuhkan waktu 3-4 jam perjalanan menggunakan kendaraan berpenggerak 4 roda. berjarak 35km dari kota  Manokwari. Untuk menuju ke sini bisa dengan berjalan kaki jika ingin berpetualang di alam bebas. Bisa juga dengan menggunakan kendaraan off-road karena memang jalan menuju lokasi tidak mulus sehingga tidak bisa dilalui oleh mobil biasa. Jika ingin lebih cepat lagi, bisa juga dengan menggunakan pesawat terbang twin otter dan cesna hanya 25 menit dengan tarif Rp. 300.000/orang.

Selama Perjalanan Anda akan disuguhi pemandangan alam yang menyegarkan jiwa. Bila Anda berangkat dini hari dari Manokwari, kemungkinan besar akan menyaksikan indahnya matahari terbit diantara Pegunungan Arfak. Bulatnya matahari pagi, muncul diantara gunung-gunung besar seakan menguak kabut pagi yang masih menyelimuti sebagian besar wilayah pegunungan. Hangatnya berpadu dengan dinginnya udara asli menghasilkan kesejukan yang sangat nyaman dinikmati.

Danau Anggi diapit oleh bukit Kobrey atau disebut sebagai “perbukitan firdaus” oleh penduduk di sana. Perjalanan memang bisa menghabiskan waktu seharian dengan kendaraan tapi semua ini jadi sebanding saat tiba di danau ini. Suhu cuaca yang dingin hingga 6 derajat celcius membuat suasana jadi lebih nyaman saat berada di danau.

Di pegunungan Arfak ini masih ada masyarakat asli Mandacan yang terdiri dari beberapa suku seperti suku Meyakh, Suku Sough, Suku Hatam yang masih mempertahankan kebudayaan asli. Mereka tinggal di rumah tradisional yang disebut dengan Lgkojei atau Tumisen. Rumah tersebut terbuat dari kayu yang kuat dan tidak mudah patah. Biasa disebut dengan rumah kaki seribu karena memiliki kaki-kaki yang banyak. Warga umumnya memiliki sikap yang sopan dan ramah . Anggi Ginji maupun Gita memiliki air yang cukup tenang, perbedaannya terletak di warna air.

Danau Anggi Ginji memiliki air yang berwarna kehitaman sedangkan Gita memiliki air berwarna biru terang. Perbedaan ini disebabkan oleh pantulan hutan-huta dan berbagai plankton yang terdapat di dalam danau. Tumbuhan-tumbuhan khas pegunungan pun akan banyak Anda saksikan di kedua danau Anggi, umumnya tumbuhan ini adalah endemik khas, yang berarti tidak ada di wilayah lain.

Pegunungan Arfak ini adalah ekosistem yang mewakili tanah Papua oleh karena dihuni beberapa habitat yang dilindungi, seperti kehidupan berbagai jenis satwa seperti kupu-kupu sayap-burung (ornithoptera-sp) yang menjadi buruan kolektor kupu-kupu internasional. Kupu-kupu jenis ini oleh masyarakat suku Arfak sudah ditangkarkan. Salah satunya di kampung Iray, di dekat danau Anggi Giji. Kawasan ini dihuni pula oleh Cendrawasih Arfak (Astrapia-nigra). Berbagai jenis tumbuhan antara lain pohon Arwob atau dodonia fiscosa, tumbuhan khas pegunungan Arfak. Juga terdapat kayu Masohi yang rasanya pedas seperti permen menthol, berguna untuk penambah selera makan. Dan masih banyak kekayaan flora-fauna lagi yang menghuni wilayah ini.

Menurut data pemerintah kabupaten Manokwari, pegunungan Arfak ini memiliki tidak kurang 110 jenis mamalia, 333 jenis burung, yang beberapa jenis merupakan endemik, pegunungan Arfak. Salah satunya adalah burung Namdur Polos (Bowerd Bird). Burung ini, oleh suku Arfak Moley dinamai burung Mbrecew, yang berarti pintar atau pandai berkicau, oleh karena bisa menirukan suara-suara lain dan bunyi apa saja. Burung ini juga mampu membuat sarang (bower) dari dedaunan, rumput kering, dan tangkai anggrek hutan, yang dibuat menyerupai rumah dan meletakkannya di atas pohon maupun di tanah.

Tidaklah heran jika sejumlah ahli yang pernah datang meneliti di kawasan ini menyatakan bahwa sejarah telah mencatat pegunungan Arfak punya arti penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di masa mendatang dan sangat layak dijadikan perpustakan data genetik yang bisa diolah untuk aneka jenis obat dan ramuan tradisional. Data etno-botani menyebutkan cagar alam pegunungan Arfak juga kaya akan aneka jenis tumbuhan yang bisa diolah menjadi obat bius dan obat perangsang, namun sejauh ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Suhu sekitar danau sangat dingin. Apalagi di bukit Kobrey yang bisa mencapai 6 derajat celsius. Oleh masyarakat suku Sough di kampung Iray, bercocok tanam hortikultura seperti kentang, wortel, daun bawang, seledri, berbagai jenis bunga antara lain Gladiol Anggi, Rhododenrum, merupakan pilihan tepat. Mereka belum mengenal pestisida. Tanaman tumbuh subur terhindar dari zat-zat kimia dan toxic yang berbahaya. Sayang sekali, hasil panen mereka masih sulit untuk dipasarkan keluar areal perkampungan mereka karena biaya pengangkutan yang tinggi, tidak menutupi ongkos pergi-pulang seperti ke Ransiki atau kota Manokwari. Mereka masih sangat berharap jika pedagang dari luar datang membeli hasil panen mereka.

Keunikan lain yang dapat dijumpai di pegunungan Arfak adalah kehidupan sosial masyarakat asli Mandacan yang terdiri dari beberapa suku seperti suku Meyakh, suku Sough, suku Hatam dengan beragam bahasa serta tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini. Di antaranya, seorang lelaki wajib berjalan di belakang perempuan baik anaknya maupun istrinya. Kita juga dapat menjumpai budaya Arfak yang berkenaan dengan prosesi ritual pengucapan syukur yang disimbolkan dengan tarian Magasa, sejenis tari ular. Biasanya, hampir setiap musim panen, perkawinan atau menyambut tamu, tarian ini dipertunjukkan.

Rumah tradisional Arfak disebut Igkojei, yang oleh suku Sough disebut Tumisen, terkenal dengan tahan lama dan kokoh, karena tiang yang banyak terbuat dari jenis kayu bua yang tidak mudah patah meskipun hanya berdiameter 5-10 cm. Rumah Tumisen ini juga sering disebut rumah kaki seribu karena tiangnya yang banyak. Saat ini keaslian rumah Igkojei atau Tumisen sudah mulai langkah apalagi atap yang asli dari rumput ilalang rat-rata sudah diganti menggunakan seng.

Masih tersimpan banyak keunikan dan keindahan lainnya lagi yang bisa kita dapatkan di kawasan pegunungan Arfak.

Jika Anda peneliti atau mahasiswa, petualang, professional ataupun hobbies fotografi flora-fauna, ataupun Anda tergolong “wisatawan modern/minat khusus”, segera datang di Papua Barat. Jelajahi pegunungan Arfak, telusuri goa terdalam di dunia, berkeliling di dua danau Anggi dan buktikan kepada dunia bahwa Anda-pun turut serta berperan “menyelamatkan” hutan Papua.

Hingga saat ini kedalaman danau Anggi pun belum dapat dipastikan karena belum ada satu pun peneliti yang mampu menyelam hingga mencapai dasar danau. Misteri danau Anggi ini akan terus ada menjadi daya tarik dan bersinergi dengan pegunungan Arfak yang begitu unik, Anda wajib untuk menyaksikan sendiri keagungan alam danau yang begitu menakjubkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here