Seorang guru adalah pekerjaan yang mulia, berkat guru seseorang bisa menjadi dokter, pilot, bahkan bisa menjadi pengusaha besar. Dengan penuh tanggung jawab setiap mendidik siswanya guru, penuh kesabaran berharap anak didiknya menjadi lebik baik, berprestasi dan berguna bagi nusa dan bangsa, begitu mulianya pekerjaan sebagai seorang guru.

Akan tetapi bagaimana perasaan dari seorang guru berkaitan dengan pekerjaannya tersebut? apakah guru senang atau malah kecewa setelah menjadi guru? Bagaimana jika guru melakukan kewajibannya tetapi tak bisa mendapatkan haknya.

Kecewa lantaran haknya tidak diterima, terjadi lagi di Timika, Papua. Kejadian ini terungkap setelah beredar sebuah foto disosial media. 

Hanya sekedar menuntut hak pembayaran insentifnya, seorang guru honorer harus rela meratap dengan tangisan di depan pejabat Dinas Pendidikan Dasar.

Peristitwa ini jadi viral di sosial media, sejak posting oleh Vensca Virginia Ginsel di facebook. Berikut ini kutipan yang diungkapan melalui postingannya.

Nasib Guru Honorer di Timika; Harus meratap dgn tangisan di depan pejabat Dinas Pendidikan Dasar hanya utk menuntut hak pembayaran Insentif mereka.
Sy menangis lihat kejadian ini. Sungguh! Air mata sy tidak tertahankan. Pengorbanan guru2 honorer untuk mencerdaskan generasi bangsa di Kab. Mimika dibayar dgn sebuah kebijakan yg diskriminatif dan perilaku pejabat yg tidak simpatik.
Kabupaten Mimika membutuhkan ribuan guru. Tidak boleh dipungkiri. Sy tdk tahu berapa banyak tenaga guru honorer yg didata Dinas Pendidikan Dasar & Menengah Kab. Mimika. Dari sekian guru honorer itu, berapa banyak yg memiliki SK Pemda dan berapa banyak yg tdk miliki SK tersebut.
Permendikbud yg mengharuskan Guru Honorer memiliki SK Pemda seperti menjadi hantu di siang bolong bagi guru2 honorer di Timika. Bagaimana tidak, ratusan bahkan (mungkin) ribuan diantara mereka tdk memiliki SK. Peraturan ini kemudian diterapkan oleh Pemda Mimika melalui Dinas Pendidikan Dasar & Menengah tanpa ada sosialisasi dan memberikan kesempatan kepada guru2 honorer itu utk mengurus SK Pemda. Miris? Tentu saja! Guru2 honorer yg tdk memiliki SK Pemda sebagian dipecat, yg lain tdk mendapatkan hak mereka berupa pembayaran insentif.
Salah satu guru SD yg menghadap salah satu Kabid di dinas pendidikan Dasar ini contohnya. Guru yg merupakan masyarakat asli dr suku kamoro ini, harus mengeluarkan air matanya di depan pejabat dinas yg terlihat sedang memainkan HPnya, hanya untuk meminta haknya.
Negara punya Hutang utk para guru ini. Bukan hanya hutang belum membayar upah mereka, tapi hutang atas budi mereka mau berada di pelosok utk mencerdaskan bangsa.
Jangan pikir ini hanya hal sepele! Mudah2an Pak Kabid itu sedang menghubungi pejabat terkait utk membantu Bapa Guru ini dan guru2 honorer lainnya di Timika. Siapa tahu!

Ternyata postingan ini mendapat tanggapan luas dari dari netizen. Tidak sedikit netizen yang mempernyakan hingga mengutuk pejabat yang mengabaikan guru hononer tersebut.

Ada juga yang turut ikut berduka atas kejadian ini, silahkan baca selengkapnya

Bagaimana menurutmu, apakah pantas membiarkan seorang guru menangis didepan anda?