Akibat dari limbah perusahaan, warga terserang diare. Kantor berita Antara melaporkan warga yang terkena dampak mencapai 22 orang dan mereka yang bermukim di Distrik Unurum Guay, Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Air yang menjadi sumber kehidupan warga sekitar Unurum Guay diduga telah tercemar sampah pembuangan pabrik. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Khairul Lie membenarkan hal itu ketika dikonfirmasi dari Jayapura.

“Diare ini terjadi di area perusahaan Rimba Matoa Lestari (RML), penyebabnya diduga dari sumber air untuk karyawan yang berasal dari waduk yang tidak higienis,” katanya kepada Antara.

Akibatnya, lanjut dia, banyak vektor lalat yang berasal dari sisa sampah pembuangan pabrik yang menimbulkan bau tak sedap sehingga memicu percepatan penularan diare.

Penularan diare terjadi melalui lalat yang diduga hinggap di makanan yang hendak dimakan.

Menurut Khairul, kasus diare di distrik itu terjadi sejak 18 Juli 2017 sebanyak satu kasus, kemudian terus bertambah menjadi enam kasus pada 22 Juli 2017.

“Setelah dilakukan investigasi dan pelacakan kasus oleh tim Dinkes di Unurum Guay, secara kumulatif total sudah 22 kasus,” ujarnya.

Dari jumlah itu, tambah dia, satu orang bayi di antaranya meninggal di usia sembilan bulan.

Diketahui bahwa RML adalah perusahaan yang bergerak di industri minyak kepala sawit, pada tahun 2014 Greenpace Indonesia pernah ungkap bagaimana perusahaan ini menguasai hutan. PT RML ini dikendalikan oleh konglomerat industri RGE Group Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here