Ini 6 Kalender Kuno Yang Pernah Ada di Dunia

1
886
Photo by Ylanite Koppens from Pexels
Photo by Ylanite Koppens from Pexels

Dalam sejarah perkembangan manusia telah mengalami perbagai macam perubahan, salah satunya adalah dalam menentukan penanggalan yaitu kalender. Ada kalender kuno yang diperkirakan berusia lebih dari sekitar 5.000 SM hinga kalender masehi.  Kalender ini rata-rata digunakan untuk mengukur bulan dan hari sesuai dengan kebutuhan pada jamannya.

Hingga saat ini Kalender Masehi yang menjadi standar perhitungan bulan dan hari di dunia. Namun selain kalender-kalender tersebut masih banyak orang didunia yang menggunakan  kelender Romawi. Adapun sejarah manusia di bumi ini telah mencatat ada banyak kalender yang pernah digunakan orang-orang pada zaman dulu dan diyakini sebagai penghitung akhir zaman. Memang kalender ini agak terbilang unik jika baru pertama kali melihatnya. Sebab, sistem penanggalan dan tahunnya juga agak berbeda dengan kalender pada umumnya.

Berikut ulasan 6 kalender pada masa yang hingga kini masih berlaku yang unik dan penuh misteri dalam catatan sejarah dunia yang dirangkum dari berbagai sumber:

1. Kalender Aztec

Batu kalender Aztec Aztec, juga disebut Batu Matahari, dipamerkan di Museum Antropologi Nasional, Mexico City.
Batu kalender Aztec Aztec, yang juga disebut Batu Matahari, dipamerkan di Museum Antropologi Nasional, Mexico City.

Kalender Aztec merupakan kalender tua dengan dua sistem. 11 Januari 1325, Mexico City yang kini menjadi ibukota Meksiko, dibangun oleh raja terakhir Dinasti Aztec. Aztec adalah salah satu di antara suku-suku bangsa kulit merah Amerika Selatan yang datang ke Meksiko pada abad ke-12. Kehidupan bangsa Aztec berpusat pada pertanian. Namun pada abad ke-16, bangsa Spanyol datang ke Meksiko untuk menancapkan imperialismenya di kawasan itu. Bangsa Aztec melakukan perlawanan dan terjadilah pertempuran di antara keduanya yang dimenangkan oleh Spanyol. Sejak saat itu, jutaan orang Spanyol berdatangan ke Meksiko dan tinggal di sana, sementara bangsa Aztec tersingkir dan akhirnya punah.

Namun, bangsa aztec tidak punah tanpa jejak. banyak peninggalan yang menakjubkan yang lahir pada zaman peradaban bangsa aztec, salah satunya yaitu suatu sistem kalender bangsa Aztec, kalender tua dengan dua sistem.

Kalender batu Aztec, di ukir dari potongan batu gunung dengan berat lebih dari 22 metric tons, gambaran dewa matahari di bagian tengahnya menggambarkan masa lalu dan masa kini.

Para dewa matahari di kelilingi oleh beberapa bagian cincin, beberapa di antaranya berhias tulisan yang menunjukkan bagian dari perputaran waktu bangsa Aztec.

Kalender Aztec, sistem pengukuran waktu yang digunakan bangsa Aztec yang menguasai daerah tengah sampai selatan Meksiko pada abad 15 sampai awal abad 16. Kalender bagi bangsa Aztec merupakan pusat dari sistem yang rumit untuk acara keagamaan dan acara lainnya termasuk untuk ritual perang dan pengorbanan manusia. Sebagai masyarakat agraris, mereka percaya bahwa ritual dan acara keagamaan dapat memastikan tetap langgengnya proses alam yang berujung pada suburnya tanah pertanian mereka, karena adanya matahari yang bersinar tiap hari dan kembalinya musim hujan.

Masyarakat Aztec menggunakan dua macam sistem kalender, satu kalender dengan putaran waktu 260 hari dan satu kalender lainnya dengan 365 hari.

Kalender 260 hari, di kenal sebagai tonalpohualli (menghitung hari), adalah penanggalan keramat yang biasanya digunakan oleh para pendeta untuk memprediksikan masa depan. Kalender ini terbagi menjadi 20 periode, masing-masing periode terdiri dari 13 hari. Tiap periode memiliki nama sendiri.

Pada tulisan Aztec (hieroglyphs), tiap periode di tandai dengan sebuah simbol seperti air, kelinci atau pisau batu. Untuk menghitung hari pada tiap periode, mereka mencatatnya dengan menambahkan titik pada hieroglyph untuk tiap hari yang lewat.

Pada kalender dengan sistem 365 hari, merujuk pada waktu yang butuhkan oleh bumi untuk sekali mengitari matahari. Di kenal sebagai xiuhpohualli (untuk menghitung hari dan bulan) atau xihuitl (untuk menghitung tahun), sistem ini digunakan untuk kepeluan upacara keagamaan yang penting dan kepentingan pertanian seperti waktu tepat bercocok tanam atau saat untuk menuai. Tiap tahun terbagi atas 18 periode, tiap periode terdiri dari 20 hari 5 hari terakhir di anggap sebagai hari yang berbahaya atau hari yang tidak baik. Tiap periode memiliki festival dan perayaan sendiri, biasanya berdekatan dengan acara tahunan yang terkait dengan pertanian. Seperti halnya sistem kalender 260 hari, tanggal di beri tanda dengan huruf dan titik.

Tahun di tandai dengan gambar sepasang tanda dari 4 simbol—kelinci, bambu, rumah dan pisau batu—dengan 1 sampai 13 titik. Untuk menghindari kebingungan antara hari dan tahun, simbol untuk tahun di lingkari dengan tanda bujur sangkar, sementara untuk hari di biarkan tetap terbuka. Dengan sistem ini, bangsa Aztecs memiliki 52 nama untuk tahun yang berbeda. Tiap 52 tahun berakhirnya kedua sistem kalender tersebut di samakan ulang dan menandai berakhirnya 1 abad bagi bangsa Aztec.

 

2. Kalender Julius/Julian

Penanggalan tahun 2017 menurut kalender Julian
Penanggalan tahun 2017 menurut kalender Julian

Kalender Julius atau Kalender Julian diusulkan oleh astronom Sosigenes, diberlakukan oleh Julius Caesar sejak 1 Januari 45 sebelum Masehi. Setiap 3 tahun terdapat 365 hari, setiap tahun ke-4 terdapat 366 hari. Terlambat 1 hari dari ekuinoks setiap 128 tahun.

Kalender ini merupakan tahun syamsiah (matahari) dengan jumlah hari tetap setiap bulannya, dan disisipi satu hari tiap 4 tahun untuk penyesuaian panjang tahun tropis. Kalender ini digunakan secara resmi di seluruh Eropa, sampai kemudian diterapkannya reformasi dengan penggunaan Kalender Gregorius pada tahun 1582 oleh Paus Gregorius XIII. Britania Raya baru mengimplementasikan pada tahun 1752, Rusia baru pada tahun 1918 dan Yunani baru pada tahun 1923. Gereja Ortodoks sampai sekarang tetap menggunakan Kalender Julius sehingga perayaan Natal dan Tahun Baru berbeda.

Era sebelum tahun 45 SM, dinamakan “era bingung”, karena Julius Caesar menyisipkan 90 hari ke dalam kalender tradisional Romawi, untuk lebih mendekati ketepatan pergantian musim. Penyisipan ini sedemikian cerobohnya sehingga bulan-bulan dalam kalender itu tidak lagi tepat. Akhirnya dengan saran Sosiogenes, seorang astronom dari Aleksandria, Caesar menetapkan kalendernya menjadi 12 bulan, masing-masing dengan jumlah hari tertentu seperti sekarang, dengan penetapan tahun kabisat setiap 4 tahun, dengan keyakinan bahwa panjang 1 tahun surya adalah 365,25 hari saat itu. Dengan cara ini setiap 128 tahun, kalender ini kebanyakan satu hari.

Sejak meninggalnya Caesar, penerapan tahun kabisat salah terap. Kabisat diberlakukan tiap menginjak tahun ke-4, jadi 3 tahun sekali. Keadaan ini konon dibetulkan kemudian oleh Kaisar Agustus, dengan meniadakan semua hari kabisat dari tahun 8 SM sampai tahun 4 Masehi. Setelah itu kalender Julius berfungsi dengan jauh lebih baik.

Dalam kalender Romawi sebelumnya, tahun biasa terdiri atas 12 bulan dengan 355 hari. Sebagai tambahan, satu bulan kabisat 27 hari, Mensis Intercalaris, beberapa kali disisipkan di antara Februari dan Maret. Bulan kabisat ini dibentuk dengan menyisipkan 22 hari setelah 23 atau 24 hari pertama Februari; lima hari terakhir Februari, yang menghitung mundur hari-hari memasuki bulan Maret, menjadi lima hari terakhir Intercalaris. Efeknya adalah menambah 22 atau 23 hari dalam tahun tersebut, membentuk satu tahun kabisat yang memiliki 377 atau 378 hari.

Menurut penulis Censorinus dan Macrobius, siklus kabisat yang ideal terdiri atas tahun biasa dengan 355 hari bergantian dengan tahun kabisat, dengan jumlah hari bergantian 377 dan 378 hari. Dengan sistem ini, secara merata tahun Romawi akan memiliki 366¼ hari setiap empat tahun, yang menghasilkan penyimpangan rata-rata satu hari per tahun terkait dengan titik balik matahari atau ekuinoks. Macrobius menjelaskan perbaikan lebih lanjut, yaitu dalam satu periode 8 tahun dalam satu siklus 24 tahunan, hanya ada tiga tahun kabisat dengan setiap tahun kabisat memiliki 377 hari (sehingga ada 11 tahun kabisat setiap 24 tahun). Perbaikan ini menjadikan rata-rata lamanya satu tahun adalah 365,25 hari untuk jangka waktu 24 tahun.

Dalam praktiknya, kabisat tidak terjadi secara sistematis berdasarkan sistem ideal tersebut, tetapi ditentukan oleh Pontifex. Sejauh yang ditunjukkan oleh bukti sejarah, penentuan tersebut jauh kurang teratur daripada skema ideal yang disarankan. Tahun kabisat biasanya terjadi setiap tahun kedua atau ketiga, tetapi beberapa kali dihilangkan selama jangka waktu yang lebih lama, dan kadang-kadang tahun kabisat terjadi dua tahun berturut-turut.

Jika dikelola dengan benar, sistem ini memungkinkan tahun Romawi untuk tetap sejajar dengan tahun tropis. Tetapi, karena Pontifex seringnya adalah politisi dan periode jabatan hakim/pejabat pengadilan Romawi terkait dengan tahun kalender, wewenang ini rentan disalahgunakan: seorang Pontifex dapat memperpanjang lamanya satu tahun ketika ia atau salah satu sekutu politiknya sedang menjabat, atau menolak memperpanjang lamanya ketika lawannya yang berkuasa.

Jika terlalu banyak kabisat dihilangkan, seperti yang terjadi setelah Perang Punisia Kedua dan selama Perang Saudara, kalender akan menympang jauh dari kalender tropis. Lebih jauh, karena kabisat sering ditentukan terlambat, rata-rata warga Romawi tidak mengetahui tanggal, khususnya jika ia jauh dari kota. Untuk alasan ini, tahun-tahun terakhir sebelum kalender Julius kemudian dikenal sebagai “era bingung”. Masalah menjadi mendesak selama periode Julius Caesar menjadi Pontifex sebelum reformasi, 63–46 SM, ketika hanya ada lima bulan kabisat (seharusnya delapan), tidak pernah ada kabisat selama lima tahun Romawi sebelum 46 SM.

Reformasi Caesar ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan ini secara permanen, dengan membuat suatu kalender yang tetap sesuai dengan matahari tanpa adanya intervensi manusia. Hal ini terbukti berguna segera setelah kalender baru diefektifkan. Varro menggunakannya pada 37 SM untuk memperbaiki penanggalan kalender untuk awal empat musim, yang mustahil hanya delapan tahun sebelumnya. Seabad kemudian, ketika Plinius menetapkan titik balik matahari musim dingin jatuh tanggal 25 December karena matahari berada di derajat ke-8 Kaprikornus pada tanggal tersebut.

 

3. Kalender Revolusi Perancis

French Republican Calendar of 1794, drawn by Philibert-Louis Debucourt
French Republican Calendar of 1794, drawn by Philibert-Louis Debucourt

Siapa sangka, kalender yang juga disebut kalender republik Perancis ini digunakan di negara Perancis pada tanggal 24 Oktober 1793, sampai 1 Januari 1806. Kalender ini sempat direvisi namun tetap dihapus kembali pada tahun 1871.

Kalender itu pertama kali diperkenalkan lebih dari satu tahun setelah revolusi Perancis. Oleh karena itu dalam kalender ini tidak terdapat tahun ke-1.

Sementara itu, kalender ini dimulai pada tahun ke-2. Dalam kalender ini terdapat 12 bulan, di mana setiap bulan terdiri dari tiga ‘dekade (10 hari)’. Kesepuluh hari dekade disebut Primidi, Duodi, Tridi, Quartidi, Quintidi, Sextidi, Septidi, Octidi, Nonidi, Decadi. Satu bulan tidak dibagi dalam minggu, tetapi 3 dekade yang terdiri dari 10 hari. Setiap hari terakhir dari dekade adalah hari libur.

Satu tahun terdiri dari 365 atau 366 hari dengan 12 bulan dengan 30 hari = 360 hari. Pada akhir tahun sisanya (5 atau 6 hari) ditambah.

Keduabelas bulan bernama sebagai berikut:

Vendémiaire
Brumaire
Frimaire
Nivôse
Pluviôse
Ventôse
Germinal
Floréal
Prairial
Messidor
Thermidor
Fructidor

 

4. Kalender China

Penanggalan Tahun 2017 menurut Kalender China
Penanggalan Tahun 2017 menurut Kalender China

Kalender China kombinasi antara kalender Lunisolar, yang berarti bahwa kalender tersebut dihitung berdasarkan posisi matahari dan bulan.

Setahun biasanya memliki 12 bulan, dan 353-355 hari. Setiap tiga tahun sekali, ada tambahan bulan dengan nama yang sama seperti nama bulan sebelumnya.

Meskipun kalender ini masih digunakan di China, dalam kalender China terdapat kedua belas binatang yang melambangkan kedua belas cabang Bumi, di antaranya, tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, kera, ayam, anjing, dan babi.

 

5. Kalender Gregorian

 

Kalender Gregorius atau Kalender Gregorian adalah kalender yang sekarang paling banyak dipakai di Dunia Barat. Ini merupakan modifikasi Kalender Julius. Yang pertama kali mengusulkannya ialah Dr. Aloysius Lilius dari Napoli-Italia, dan disetujui oleh Paus Gregorius XIII, pada tanggal 24 Februari 1582. Penanggalan tahun kalender ini, berdasarkan tahun Masehi.

Kalender ini diciptakan karena Kalender Julius dinilai kurang akurat, sebab permulaan musim semi (21 Maret) semakin maju sehingga perayaan Paskah yang sudah disepakati sejak Konsili Nicea I pada tahun 325 tidak tepat lagi. Lalu pada tahun 1582, Kamis-4 Oktober diikuti Jumat-15 Oktober.

Satu tahun dalam Kalender Julius berlangsung selama 365 hari 6 jam. Tetapi karena revolusi Bumi hanya berlangsung selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik, maka setiap 1 milenium, Kalender Julius kelebihan 7 sampai 8 hari (11 menit 14 detik per tahun). Masalah ini dipecahkan dengan hari-hari kabisat yang agak berbeda pada kalender baru ini. Pada kalender Julius, setiap tahun yang bisa dibagi dengan 4 merupakan tahun kabisat. Tetapi pada kalender Gregorius, tahun dengan kelipatan 100 dianggap sebagai tahun kabisat apabila tahun tersebut juga bisa dibagi dengan 400. Semisal, tahun 1600, 2000, dan 2400 termasuk tahun kabisat sedangkan tahun 1500, 1700, 1800, 1900, dan 2100 tidak termasuk tahun kabisat.

Setelah Kalender Gregorius dicanangkan, tidak semua negara mau memakainya. Baru beberapa abad setelah ini, hampir semua negara barat mau mengimplementasikannya. Rusia baru mengimplementasikannya pada tahun 1918. Dengan demikian Revolusi Komunis Rusia yang sekarang diperingati setiap tanggal 7 November, disebut sebagai Revolusi Oktober. Gereja Ortodoks sampai saat ini masih memakai Kalender Julius.

Republik Venesia, Spanyol, Portugis, Belanda, Jerman dan Polandia merupakan negara-negara pertama yang secara resmi menerapkan sistem penanggalan ini melalui Inter gravissimas.[1] pada tahun 1582.

Tanggal 1 Januari 1622 ditetapkan sebagai permulaan tahun. Sebelumnya tanggal tahun baru di setiap negara Eropa dalam keadaan beragam.

6. Kalender Maya

Pada tahun 2012, kalender Suku Maya pernah meramalkan bahwa Bumi ini akan kiamat. Kalender Maya sebenarnya terdiri dari tiga kalender yang berbeda, yakni Long Count, Tzolkin dan Haab.

Kalender Haab memiliki 365 hari, dibagi menjadi 19 bulan, 18-20 hari dalam satu bulan, dan satu bulan hanya dalam lima hari.

Kalender Tzolkin memiliki 13 periode, di mana setiap periode memiliki 13 hari. Kalender ini digunakan untuk menentukan hari upacara Suku Maya dan kegiatan keagamaan lainnya.

Sementara itu, Long Count digunakan untuk menentukan frekuensi waktu yang lebih lama atau lebih dikenal dengan “Siklus Universal”.

Siklus universal memiliki 2,88 juta hari (sekitar 7.885 tahun). Maya Kuno percaya bahwa alam semesta hancur dan kemudian dibangun kembali setiap 2,88 juta hari.

Baca Juga: Mamat Alkatiri; Comic Papua dan Perjuangan Melawan Stigma

Demikian informasi penanggalan kalender yang pernah ada didunia ini, jika anda suka dengan artikel ini jangan lupa berbagi sebagai pengetahuan bersama.

- Space Iklan -
Pasang Iklan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here