Beranda Berita Misi Zending Ottow – Geissler.

Misi Zending Ottow – Geissler.

403
0

SEJARAH dari setiap gereja pasti ditulis dgn baik tentang keterlibatan dari para missionaris. Salah satu contoh adalah Pekabaran Injil di Tanah Papua. Peranan yang sangat besar terhadap Pekabaran Injil di Tanah Papua menurut F.C. Kamma ada di tangan Gossner dan Heldring.

Walaupun mereka berdua berasal dari lingkungan dan latar belakang gereja yg berbeda, tetapi orang-orang sealiran yg menentang rasionalisme dan formalisme. Bagi mereka berdua, Injil menjadi dasar bersama dan injil mempertemukan mereka untuk mewujudkan agama Kristen dalam tindakan yang nyata.

Usaha dari mereka berdua antara lain menghasilkan zending di Tanah Papua sehingga mereka dua dijuluki bapak-bapak zending Tanah Papua.

Pendapat, pandangan dan pengaruh mereka berdua telah membekas dalam kehidupan para penginjil, baik penginjil Jerman dari kelompok Gossner maupun penginjil Belanda dari kelompok Heldring. Dan kita tidak akan mengerti sikap para utusan Injil yg pertama ke Tanah Papua tanpa terlebih dahulu mendapatkan gambaran yang jelas mengenai latar belakang guru-guru mereka.

Johannes Gossner (1773-1858)

Ia ditahbiskan menjadi imam Gereja Katolik Roma padanpada bulan Oktober 1796. Ia berasal dari keluarga petani yang saleh. Di dalam pelayanannya ia menemukan bahwa gereja Kristus, baik Gereja Katolik Roma maupun Gereja Reformasi telah tersesat jauh dari sumbernya dan bahwa kebenaran Injil: Salib, dosa, pengampunan dan penebusan hampir tidak lagi dikhotbahkan dari sebuah mimbar pun.

Di dalam buku hariannya, Gossner melukiskan pergolakan bathinnya demikian: “semangat zaman dan pandangan dunia yg sejalan dgn semangat zaman ini, bagaikan suatu badai telah menutupi seluruh kehidupan rohani di Jerman.”

Akal budi yang sok tahu berkuasa. Orang tidak mau percaya dan menerima sesuatu apa pun yang tidak sesuai dengan akal dan alam. Juga di dalam kenyataan tidak dipersoalkan lagi, hanya pengertian-pengertian saja yang dipentingkan”.

Gossner dengan pikirannya yg sgt oikumenis dan keras menentang formalisme: membiarkan diri diikat secara batiniah oleh suatu kuasa rohani dari luar. Dia mempunyai pandangan yang terbuka untuk dunia luas tempat dimana Injil belum dikabarkan.

Dia juga tidak menggabungkan dirinya dengan berbagai pendidikan zendeling lainnya pada waktu itu karena menurutnya terlalu intelektualitas. Baginya para zendeling tidak perlu pendidikan yang memakan banyak waktu. Yang penting mereka adalah orang-orang Kristen yg penuh keyakinan dan dengan dedikasi yang baik, yang dapat diutus sesudah masa persiapan yang pendek dan sama seperti rasul Paulus dpt memelihara hidupnya dgn hasil kerajinan tangannya sendiri sehingga waktu senggangnya mereka dpt memberitakan Injil.

Pada hahun 1826 Gossner keluar dari Gereja Katolik Roma dan menggabungkan dirinya dgn Gereja Evangelisch Protestan di Koeninghaim. Dari tahun 1829-1846 ia menjadi pendeta jemaat Betlehem di Berlin.

Ia terlibat utk mempersiapkan tenaga zendeling yg akan dipekerjakan di daerah-daerah misi yg membutuhkan tenaga. Pd tanggal 9 Juli 1837 para zendeling tukang utusan Gossner yg pertama diteguhkan. Pada waktu itu Gossner berusia 64 tahun, dan di dalam 21 tahun sisa hidupnya ia mengirimkan lagi 141 orang penginjil, diantarannya ada 16 orang teolog yang berpendidikan akademis. C.W. Ottow & J.G. Geissler yang di utus ke New Guinea (Tanah Papua) merupakan dua orang dari 141 penginjil yang diutus Gossner.

Latar belakang pendidikan Gossner dan pandangan-padangannya sangat besar pengaruhnya pada murid-muridnya. Para muridnya diwajibkan untuk melihat orang kafir di daerah tujuan misinya sebagai makluk Tuhan yg harus diselamatkan. Itu tugas utama dari misi pekabaran Injil.

Setelah pensiun di tahun 1846, Gossner mencurahkan seluruh perhatiannya kpd rumah sakit Elizabeth (semacam rumah sakit Diakones) dan mengarahkan perhatian seluruhnya papa pendidikan pekerja-pekerja zending tempat dimana Ottow dan Geissler turut terlibat. Pada tgl 30 Maret 1858 ia meninggal dunia dgn tenang.

(*) Dikutip dari buku “Dengarlah Ottow Berbicara” oleh Pdt. J.F. Onim, M.Th.

HUT PI Yang ke 163 Tahun di Tanah Papua (5 Feb 1855 – 5 Feb 2018).

“..In Gottes Namen Betraten Wir Das Land..”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here