Cover Album Rio Grime. Foto; Dok.PB

pacebro – Tanah Papua pernah melahirkan seniman-seniman terbaik yang pernah mengharumkan nama baik tanah Papua dikancah nasional dan internasional.

Nama besar mereka termasuk teknik bermusik mereka tak akan pernah tertandingi oleh generasi manapun. Mereka tampil unik dan berbeda pada jamannya, sekalipun pada jaman itu (Orde Baru dibawah kepemimpinan Soeharto), perhatian pemerintah lebih banyak dibidang olahraga. Namun menurut Decky Mamoribo (organis Rio Grime), lebih bagus mandiri, autodidak, hasilnya jauh lebih baik dan bertahan dikenang sepanjang jaman.

Beberapa Group Band yang pernah mengharumkan nama Papua adalah Black Brothers, Black Papas, Black List, Coconut Band yang dikomandani Andy Ayamiseba dan group band Rio Grime yang dihuni Robby Wambraw, Akon Bonay, Mechu Imbiri, Decky Mamoribo, Daniel Wanda, Jack Dametouw, Agus Bonay, William Sawaki, Andy Manoby, Boyke Phu, Richo Manansang, dan Irel Christa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Decky Mamoribo lewat pesan facebook. Sang organis Rio Grime itu bercerita sejak awal mereka berkumpul hingga kelompok ini harus berakhir pada album kedua.

Awal kisah, pada saat itu, 1980-an demam musik Papua di tingkat nasional tak terdengar lagi. Lagu Hari Kiamat Black Brothers, membuat pasukan Huambelo itu hengkang ke negeri kuning, Papua New Guinea. “Keheningan” Papua dibidang musik, tak bertahan lama.

Sekitar 1977 sampai dengan tahun 1980, banyak seniman muda Papua (waktu itu Irian Jaya) muncul lewat kelompok-kelompok musik gereja dan sanggar-sanggar kesenian. Diantara mereka, harus berangkat ke Jakarta untuk menempuh pendidikan.

Nama-nama mereka tak asing lagi dikalangan masyarakat. Ada Andy Manoby, Agus Sawaki Mechu imbiri, Agus Bonay (Alm), Willem Sawaki, Jack Demetouw, Wiem Torobi (alm), Hengki Wanda (alm), dan masih banyak lagi.

Kehadiran mereka di Jakarta, selain membawa seni musik Papua di pentas-pentas Nasional, ada pula yang ke Jakarta untuk menempuh pendidikan. Namun karena bakat seni yang diturunkan orang tua, akhirnya mereka mulai berkumpul dibawa payung Ikatan Kekeluargaan Masyarakat Irian Jaya di Jakarta. Beberapa tokoh Papua yang siap orbitkan seniman-seniman Papua itu diantaranya, Daniel Wanda dan Yorrys Raweyai. Kehadiran kedua tokoh sesepuh Papua itu, membangkitkan semangat berkarya seniman-seniman muda Papua.

Menurut Decky Mamoribo, awalnya, alm Mecky Sawaki sudah aktif di teater dan film budaya Papua. Disana sudah ada seorang pembimbing muda berbakat yaitu Mechu Imbiri. Kehadiran dua seniman ini ikut memancing berkembangnya seniman muda pada saat itu.

Musisi dan penyanyi Group Band Rio Grime ternyata gabungan dari Band Air Mood Jakarta dan pemain teater Budaya Papua yang sering tampil di TVRI Nasional. Di Air Mood Band ada nama-nama Dicky Mamoribo, Akon M Bonay, dan Ian Chrys Gr S Gebze.

Dicky Mamoribo tidak menceritakan secara lengkap personil lengkap dari Air Mood Band. Namun nampaklah bahwa, seluruh pemain musik dari Rio Grime berasal dari Air Mood Band. Sedangkan seluruh penyanyi dari Rio Grime sebelumnya dari pemain teater budaya Papua, pimpinan Mecky Sawaki. Diantaranya, Mechu imbiri, Agus Bonay, Willem Sawaki, Jack Demetouw, Wiem Torobi, Hengki Wanda dan masih banyak lagi yang tak disebutkan satu persatu.

Kelompok teater budaya Papua ini, kata Dicky, mereka sering tampil di opera opera budaya Papua. Film-film yang ditampilkan berdurasi pendek, dan disana ada seorang putri Papua yang sering ikut andil dalam film film kebudayaan. Dialah Mimi Wajoi. Tak luput Akon Bonay, sering-sering ikutan bermain film.

Dicky mengakui bahwa warna musik yang ditampilkan Rio Grime mengandalkan organ dan bas. Dua organis yaitu, Robby Wambraw dan Dicky Mamoribo berperan besar dalam arensemen semua musik dan lagu. Akon Bonay ikut memperkuat warna lagu yang kental dan identik dengan kepapuaan. Rupanya, pengalaman bermusik di Air Mood Band ikut memberi warna dalam modifikasi lagu-lagu Papua berirama modern.

Dikisahkan, Air Mood Band sudah berdiri sejak tahun 1983 di Jakarta. Sedangkan kelompok tari dan lagu-lagu Papua sudah hadir di Jakarta sejak tahun 1970-an.

“Grup Air Mood rekaman thn 1983 dg Hits ‘Gaya Intermezzo’.. Saat itu promo lwt TVRI acara Aneka Ria Safari, Tp lagu itu dlarang karena ada kata ‘cocacola’. Didalamnya (dianggap iklan cocacola :)).. Mk ganti dg ‘Tiket Bus Malam’.. Hasil penjualan kaset skala nasional. Air Mood dpt respond positif dr promotor.. Sejak itu, kita yakin bhw lagu2 daerah Papua jg pasti luar biasa..maka lahirlah Rio Grime”, demikian tulis abang Dicky Mamoribo dalam pesan facebook.

Kelompok musik ini menampilkan musik-musik reggae. Jenis musik ini terdengar kental terutama pada lagu “Bapa Dusu Dusu”. Sedangkan lagu-lagu lainnya cukup funk dan pop dengan beberapa lagu selingan melodi reggae. Ada pula sound yang terdengar new wave pada lagu “Belladonna”. Lagu favorit lainnya berjudul “Ticket Bis Malam” yang funk pop dengan sentuhan psychedelic pada awal lagu. Ada juga lagu “Mundar Mandir” yang reggae pop dengan petikan melodi gitar yang sangat unik dan terdengar etnik. Mungkin beberapa dari anda sempat mendengar band ini dari album era awal dari Anggun yang diiringi mereka, “Tua Tua Keladi” pada tahun 1990. Ian Gebze dan Dicky Mamoribo sekarang ini masih bermain bersama di band Abresso. Namun Akon Merdy Bonay yang telah berpulang pada tahun 2013 lalu.

Tidak lama sejak Air Mood Band didirikan, seluruh seniman itu akhirnya berkolaborasi mendirikan sebuah group band yang terakhir diberi nama Rio Grime.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here