Sirih Pinang, Photo by Devi Mou

pacebro – Tanggal 22 Mei diperingati sebagai hari Keanekaragaman Hayati Dunia (The International Day for Biological Diversity) dan Indonesia adalah salah satu negara dengan nilai keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan bahwa pada tahun 2014 Indonesia memiliki 19 ekosistem alami yang tersebar di berbagai wilayah mulai dari Sumatera sampai ke Papua dan dari tipe ekosistem alami tersebut dijumpai 74 tipe vegetasi.

Membahas mengenai keanekaragaman hayati, hutan di Papua merupakan salah satu penyusun formasi hutan hujan tropis Indo-Malaya yang kaya akan jenis, marga dan famili khas. Oleh karenanya, masih banyak masyarakat adat Papua yang menggantung hidupnya dengan alam. Salah satu hasil alam di Tanah Papua yang memiliki banyak peran bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Papua adalah pinang.

Pinang merupakan tanaman famili Arecaceae yang juga terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia. Nama daerah dari tumbuhan pinang ini antara lain pineng, pineung (Aceh), pinang (Gayo), batang mayang (Karo), pining (Toba), pinang (Minangkabau), gahat, gehat, kahat, taan, pinang (Kalimantan), bua, hua, soi, hualo, hual, soin, palm (Maluku), mamaan, nyangan, luhuto, luguto, poko rapo, amongan (Sulawesi), jambe, penang, wohan (Jawa) (Widyanigrum, 2011).

Menurut Prof. Charlie D. Heatubun, Guru Besar Fakultas Kehutanan, Universitas Negeri Papua (Unipa), dalam kajiannya di Jurnal Phytotaxa dijelaskan bahwa beragam spesies tumbuhan pinang di Kepulauan New Guinea (Papua) dan Salomon berasal dari India dan China bagian Selatan, dan jumlahnya sekitar 50 spesies (Nugroho, 2016).

Diolah dari berbagai sumber kajian ilmiah, umumnya pinang tumbuh pada segala jenis tanah namun lebih cocok pada tanah yang banyak mengandung unsur hara yang tidak berbatu dan berkapur pada ketinggian tanah yang ideal pada kisaran 0 – 700 meter dpl (di atas permukaan laut). Tumbuhan ini memerlukan sinar matahari yang cukup, suhu antara 200C-300C dan tanpa genangan air. Oleh karenanya, tanaman ini lebih banyak dijumpai di daerah pesisir pantai dari pada pegunungan.

Secara morfologi, tinggi tumbuhan ini berkisar antara 10 hingga 30 m, diameternya 15 sampai 20 cm dan batangnya tegak lurus, tidak bercabang (Arisandi, 2008). Pembentukan batang baru terjadi setelah 2 tahun dan berbuah pada umur 5 hingga 8 tahun tergantung keadaan tanah.

Pinang memiliki daun majemuk menyirip, tumbuh berkumpul di ujung batang. Pelepah daun berbentuk tabung, panjang 80 cm, tangkai daun pendek. Panjang helaian daun 1 sampai 1,8 m, anak daun mempunyai panjang 85 cm, lebar 5 cm dengan ujung sobek dan bergigi (Widyanigrum, 2011).

Tumbuhan ini berbunga pada awal dan akhir musim hujan dan memiliki masa hidup 25 hingga 30 tahun. Biji buahnya berwarna kecoklatan sampai coklat kemerahan, agak berlekuk-lekuk dengan warna yang lebih muda. Buahnya berbentuk bulat telur sungsang memanjang dengan panjang 3,5 sampai 7 cm. Dinding buah berserabut, berwarna hijau ketika masih muda dan berubah merah jingga jika masak (Sihombing, 2000).

Disamping dari keunikan morfologinya, pinang kaya akan kandungan kimia. Berdasarkan sumber yang di dapat, biji buah pinang mengandung alkaloid, flavonoid dan tanin. Air rebusan dari biji buah pinang digunakan untuk mengatasi penyakit seperti datang bulan (haid) berlebihan , hidung berdarah (mimisan), luka koreng dan borok, bisul, eksim, kudis, cacingan, diare, dan disentri.

Adapun umbut pinang dapat dimakan sebagai lalap dan mengobati patah tulang dan sakit pinggang. Pelapah daunnya dapat juga digunakan sebagai pembungkus makanan dan bahan campuran untuk pembuatan topi. Biji dan kulit bagian dalam dapat digunakan untuk menguatkan gigi goyah, bersama-sama dengan sirih, umumnya masyarakat Papua memilih pinang yang muda.

Keunggulan lain dari pinang yaitu sebagai simbol yang dapat mempererat kekeluargaan dan kesatuan masyarakat Manokwari, Papua Barat. Berdasarkan hasil penelitian Agustinus Riwi Nugroho, Universitas Sanata Dharma (2016), saat berkomunikasi (ngobrol) dengan teman atau kerabat sembari mengonsumsi pinang, memungkinkan munculnya berbagai wacana sosial-ekonomi-politik berkaitan dengan pengalaman hidup individu maupun komunal.

Terkait keanekaragaman hayati, Prof. Charlie D. Heatubun yang juga Kepala Pusat Puslit Kehati Unipa, mengemukakan bahwa terdapat lima jenis tanaman buah pinang baru yang ditemukan, dan salah satunya diberi nama “Areka Jokowi” (dilansir pada laman papuabarat.antaranews.com).

Pinang jenis baru ini merupakan hasil ekspedisi pada tahun 2015 yang dilakukan di wilayah perbatasan antara provinsi Papua dan Papua Barat. Pemberian nama Areka Jokowi dipilih sebagai bentuk penghargaan Universitas Papua (Unipa) kepada Presiden Joko Widodo yang memberi perhatian sangat besar terhadap Papua.

Penulis: Sarah R. Megumi – Greeners