The news is by your side.

Lorentz, Sitanala, dan Puncak Trikora

0 37

pacebro – Hendrikus Albertus Lorentz lahir dari pasangan Theodorus Apolonius Ninus Lorentz dan Marie Soet. Ia anak dari pemilik perkebunan tembakau di Jawa Timur. Ia sempat belajar Ilmu Hukum dan Biologi di Utrecht University, Belanda. Lorentz mengikuti tiga ekspedisi di New Guinea. Pertama, North New Guinea Expedition tahun 1903 yang dipimpin oleh Arthur Wichmann. Dan dua ekspedisi lainnya Ia pimpin sendiri pada tahun 1907 dan 1909-1910.

Ekspedisi Lorentz yang pertama Ia pimpin (South New Guinea Expedition) memiliki sasaran kawasan pegunungan tengah pulau New Guinea berlangsung Juli 1907; rombongan yang terdiri dari tentara, porter, dan beberapa suku Dayak Kalimantan (dipilih oleh karena kemampuannya melakukan perjalanan melewati sungai dengan perahu) bergerak dari dataran rendah berawa dan berhutan lebat di bagian selatan, dan berhasil membangun camp Alkmaar didekat hulu sungai Noord (tahun 1910 diubah namanya menjadi Sungai Lorentz); hulu sungai ini tidak bisa diarungi, dan ekspedisi gagal mencapai pegunungan tengah.

Pada 9 Oktober 1909, Lorentz memulai ekspedisi ke-dua dengan melewati jalur yang sama dengan ekspedisi pertama, yaitu camp Alkmaar, dan berhasil melanjutkan pendakian dengan susah payah. Pada 8 November 1909, kelompok sembilan dari rombongan, termasuk Lorentz dan Jan Willem van Nouhuys berhasil mencapai lapisan salju terbawah dari Wilhelmina Peak (sekarang Puncak Trikora) pada ketinggian 4460 meter. Dari ketinggian tersebut, Lorentz melihat adanya danau besar di utara yang kemudian Ia namai danau Habbema (menghormati anggota ekspedisi yang meninggal saat pendakian). Saat itu tidak ada upaya untuk mencapai titik Wilhelmina summit; rombangan kembali menuruni pegunungan melalui jalur yang sangat sulit, dengan kehilangan 4 anggotanya; rombongan berhasil kembali ke camp Alkmaar pada pertengahan Desember 1909.

Puncak Trikora (Wilhelmina-top) baru bisa dicapai untuk pertamakalinya pada 21 Februari 1913 dalam ekspedisi ke-tiga, yang dipimpin oleh Alphons Franssen Herderschee, seorang anggota Dutch East Indies Leger. Ekspedisi ini berlangsung dari September 1912 sampai April 1913, bertujuan meneliti tanah, flora, dan fauna wilayah pegunungan tengah yang berada pada ketinggian diatas 2300 meter. Anggota ekspedisi diantaranya: Gerard Martinus Versteeg (zoologist), August Adriaan Pulle (botanist), Paul Francois Hubrecht (geologist), dan JB Sitanala (dokter dari Maluku).

Hendrikus Albertus Lorentz (top left) at the 1903 New Guinea expedition

Jacob Bernadus Sitanala lahir di Kayeli, Pulau Buru pada 19 September 1889. Ia tamat dokter dari Stovia Batavia tahun 1912. Pada tahun 1923, Ia mengikuti tugas belajar di Belanda dalam bidang penyakit Kusta. Tahun 1927 Ia memperoleh gelar Doktor dan Guru Besar dalam Ilmu Penyakit Kusta untuk pertamakalinya di Indonesia-Belanda. Ia termasuk dalam tim perumus berdirinya Palang Merah Indonesia pada 17 September 1945. Kini namanya diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Khusus Kusta di Tangerang.

Pada tahun 1920-1922 dilakukan kembali penelusuran jajaran pegunungan tengah New Guinea melalui sisi utara, yaitu Central New Guinea Expedition. Ekspedisi ini mengikuti jalur ekspedisi militer terdahulu (tahun 1914) yang tidak tuntas.

Pada 7 Februari 1920, eksplorasi pertama dibawah pimpinan A.J.A. van Overeem dimulai dengan menelusuri hilir sungai Memberamo, dan selanjutnya ke pedalaman mengikuti alur sungai Idenburg. Pada bulan Oktober, rombongan mulai mendaki Doorman Mountains dan mencapai Swart Valley (sekarang bernama Toli Valley, Kabupaten Tolikara). Di lembah ini, rombongan untuk pertamakali kontak dengan masyarakat suku Lani (suku Dani wilayah barat). Mereka adalah masyarakat agraris. Rombongan ekspedisi tinggal selama 6 minggu di wilayah ini. Oleh karena kekurangan cadangan makanan, rombongan ekspedisi akhirnya kembali turun dengan tanpa bisa mencapai Puncak Trikora.

Ekspedisi susulan mulai dilakukan kembali pada Juni 1921, yang dipimpin oleh J.H.G. Kremer, yang merupakan anggota surveyor pada ekspedisi sebelumnya. Ekspedisi ini mengikuti jalur dari ekspedisi pertama. Mereka berhasil mencapai Baliem Valley (sekarang Wamena) dan terus mendaki kearah barat untuk mencapai danau Habbema, dan mencapai Puncak Trikora pada 4 Desember 1921. Diantara pendaki terdapat Paul Hubrecht yang telah pernah mencapai Puncak Trikora pada tahun 1913. Paul Hubrecht mencermati tudung salju dari Puncak Trikora telah menciut dibandingkan 8 tahun sebelumnya. Suku Dani yang mendiami sekitar danau Habbema menyebut Puncak Trikora dengan “Ettiakup”.

Puncak Trikora memiliki ketinggian 4750 meter, merupakan puncak ke-tiga tertinggi di Oceania setelah Puncak Mandala dan Puncak Jaya. Puncak Trikora merupakan puncak pada jajaran Pegunungan Jayawijaya yang berada di timur dari jajaran Pegunungan Sudirman. Pada tahun 1909 lapisan salju dari Puncak Trikora masih menutupi sampai pada ketinggian 4400 meter. Diperkirakan lapisan salju Puncak Trikora mulai menghilang antara tahun 1936 sampai 1962.

Dewasa ini Puncak Trikora mudah terlihat dengan berkendara melewati jalan beraspal “trans-papua” Wamena-Nduga menuju Danau Habbema yang berjarak 40 km ke barat dari kota Wamena. Dari plateu danau Habbema ini Puncak Trikora bisa didaki melalui sisi utara nya.


loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More