Setelah, ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda pada 4 Desember 2012, silam. Status Noken di UNESCO justru makin tak jelas dan terancam.

Memang Noken sedang tren, mulai dari pegawai kantoran, mahasiswa, anak sekolah, wartawan, aparat keamanan hingga pedagang sekalipun, menggemarinya. Biasanya dipakai untuk membawa barang ataupun keperluar pribadi

Terancam dicabut?

Tapi tahukah sobat jika status warisan budaya tak benda bisa dicabut kapan saja? Salah satu syarat yang diminta UNESCO adalah, pelestarian noken. Sudah hampir 7 tahun berlalu hingga kini tak ada museum khusus yang menyimpan maupun memamerkan noken khas budaya Papua. Adapun juga sebagai sarana edukasi tentang makna dan nilai dari noken itu sendiri.

Selain itu, penetapan Noken sebagai warisan budaya belum sepenuhnya mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Hingga saat ini, belum ada sebuah galeri seni yang memasarkan hasil karya pengrajin noken Papua.

Titus Pekey (duduk kanan) bersama Wakil Menteri Pendidikan Nasional (duduk tengah) saat penetapan noken sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO di Prancis. Foto: Ist
Titus Pekey (duduk kanan) bersama Wakil Menteri Pendidikan Nasional (duduk tengah) saat penetapan noken sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO di Prancis. Foto: Ist

Penggagas Noken jadi Warisan Budaya tak benda di UNESCO, Titus Pekei juga menyayangkan minimnya perhatian.
“Pemerintah provinsi, kabupaten, kota tidak memperhatikan, memberdayakan secara teratur, terukur bagi komunitas pengrajin noken di Tanah Papua di tujuh wilayah adat Papua diawali mulai dari daerah yang dipimpinnya,” ujar, Titus Pekei dilansir media daring, akurat.

Noken bukan Tas

Adapun, dalam perspektif budaya Papua, Noken berfungsi untuk keperluan adat, sejak turun temurun. Noken memiliki sejarah yang panjang. Tas tradisional ini mendorong tumbuhnya hubungan antara Nokendan pandangan hidup orang Papua, seperti sikap kemandirian dan kebiasaan saling tolong menolong.

Noken juga dianggap sebagai simbol kesuburan perempuan, kehidupan yang baik, dan perdamaian. Di berbagai suku, Noken menunjukkan status sosial pemakainya. Orang terkemuka dalam masyarakat, misalnya kepala suku, terkadang memakai noken dengan pola dan hiasan khusus.

Dalam catatannya, Titus menjelaskan bahwa Noken Papua bukanlah tas dan tas tidak bisa disamakan dengan Noken. Warga Papua telah mengenal tas buatan pabrik yang akhirnya dikatakan bukan noken. Walau secara harfiah, noken sama dengan tas karena para penggemar, pengguna dan pemakai mengukurnya semata dari fungsi dan bentuk noken, tetap semata dari fungsi dan bentuk noken, tetap saja berbeda dari apa yang dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat adat di Tanah Papua.

Noken tetap unik, khas dan alami menurut keyakinan adatnya. Kita pasti keberatan dengan comentar tidak sepaham, namun kita pun peril lebih jauh mengenal dan memahami arti noken dalam masyarakat adat Papua. Kita akan sampai pada jawaban mengapa noken tetap bukan tas dan tas bukan noken.

Noken Papua adalah hasil daya cipta, rasa dan karma yang dimilili manusia berbudaya dan beradat. Noken Papua adalah bagian dari prestasi pencapaian masyarakat noken Papuani sendiri atas tumpuan harapan yang memoles bakat alami melalui kemahiran kerajinan tangan. Apabila menghayati secara lebih seksama menurut bahan, jenis, model dan bentuk alami certa ukuran noken, maka nolen berbeda dengan tas yang diprosesoleh pabrik dengan berbagai bahan yang dihasilkan melalui pabrik pula. Bahan yang dimanfaatkan secara alami untuk membuat noken itulah yang diakui sebagai unsur budaya masyarakat Papua.

Noken sudah tersohor di tanah Papua dengan kearifan sosial budayanya. Noken dibuat dari berbagai bahan serat pohon, kulit kayu dan daun pandan seta rumput rawa. Noken adalah hasil kerajinan tangan masyarkat Papua. Noken Papua digunakan untuk mengisi, menyimpan, dan membawa berbagai barang.

Noken Identitas

Cermin noken Papua menjadi identitas jati diri masyarakat pemilik noken itu sendiri baik perorangan maupun komunitas noken menurut adat suku bangsanya masing-masing. Cermin noken pun sama seperti menggunakan kaca muka, bercermin untuk melihat wajah noken secara langsung dan utuh seperti melihat muka di cermin. Bercermin noken memang tanpa kaca, tetapi mereka memperkaya melalui alam pikir sesuai kemahiran tradisi budayanya.

Editor: Bernard